Saturday, June 14, 2014

SAVE ME



Lain denganmu, maka aku tak menyesali betapa dunia ini menyiksaku
Tak niat menomor dua kan Tuhan dari pandangku
Aku tahu sebagian manusia meNuhankan dunia
KepadaNya aku hanya bermohon tolong...,

Selamatkan aku dari Tuhan (dunia) mereka...




120614
~ZO~

Tuesday, May 27, 2014

MAHABHARATA

Daftar Isi
Kata Pengantar
Pendahuluan
Silsilah Kaurawa dan Pandawa
Mahabharata
1.Cinta Dushmanta Terpaut di Hutan
2.Dewabrata, Putra Raja Santanu dan Dewi Gangga
3.Dewabrata Bersumpah Sebagai Bhisma
4.Amba, Ambika, dan Ambalika
5.Ilmu Gaib Sanjiwini
6.Kutukan Mahaguru Sukra
7.Yayati Tua Ingin Muda Kembali
8.Mahatma Widura
9.Pandu Memenangkan Sayembara Dewi Kunti
10.Lahir di Hutan
11.Bhima Menjadi Sakti karena Racun dan Bisa
12.Karna, Anak Sais Kereta Kuda
13.Drona, Seorang Brahmana
-Kesatria
14.Istana dari Papan Kayu
15.Pandawa Terhindar dari Maut
16.BakasuraTerbunuh
17.Sayembara Memperebutkan Draupadi
18.Membangun Ibukota Indraprastha
19.Pertarungan Melawan Jarasandha
20.Krishna Menerima Penghormatan Tertinggi
21.Undangan Bermain Dadu
22.Semua Dipertaruhkan dalam Permainan Dadu
23.Dritarastra Selalu Cemas
24.Sumpah Setia Krishna
25.Arjuna dan Pasupata
26.Penderitaan adalah Karunia Dharma
27.Pengembaraan di Rimba Raya
28.Pertemuan Dua Kesatria Raksasa 
 
29.Duryodhana yang Haus Kekuasaan
30.Telaga Ajaib
31.Hidup dalam Penyamaran
32.Kedaulatan Negeri Matsya Dipertaruhkan
33.Pertemuan Para Penasihat Agung
34.Di Antara Dua Pilihan
35.Duryodana Menjebak Raja Salya
36.Usaha Mencari Jalan Damai
37.Krishna dalam Wujud Wiswarupa
38.Yang Berpihak, Yang Bertentangan, dan Yang Berdamai
39.Pelantikan Mahasenapati
40.Saat-Saat Sebelum Perang
41.Perang di Hari Pertama
42.Perang Hari Kedua
43.Perang Hari Ketiga
44.Pahlawan-Pahlawan Muda Berguguran
45.Kedua Pihak Berusaha Keras untuk Menang
46.Gugurnya Mahasenapati Bhisma
47.Rencana Penculikan Yudhistira
48.Abhimanyu Gugur
49.Jayadrata Harus Ditumpas
50.Mahasenapati Drona Tewas Terhormat
51.Duryodhana Tewas Sesuai Swadharma-nya
52.Setelah Perang Berakhir
53.Yudhistira Menjadi Raja di Hastinapura
54.Musnahnya Bangsa Yadawa
55.Pengadilan Terakhir 
 
 

Saturday, December 28, 2013

CERIA DIANTARA MENDUNG


Bukan kali pertama menatap mata mata jernih itu dengan warna suka

Kau pun mengalami menjadi tunas tunas yang rekah dalam bahagia

Tanpa fikir duka, tanpa rasa rana

Seragam putih merah menjadi jati diri awalnya

Mereka adalah bakal penentu di suatu masa

Mereka tonggak tonggak sejarah pada saatnya

Seringai terkembang di pagi buta

Ceria diantara mendung dunia...

Harafan penyembuh luka




_SOLITAIRE_

ANAKKU

Wahai anakku...,

Maukah kau belajar?
Tentang hidupmu, hidup kita dan dunia...
Agar tak cuma aku yang sibuk berkerut kening
Demi hidupmu, hidup kita, dan dunia...

Wahai anakku..., maukah kau arungi samudera?
Samudera hidupmu, hidup kita dan dunia...
Agar tak cuma aku, yang sibuk berjibaku bawa hidupmu, hidup kita dan dunia...

Wahai anakku...,
Dunia ini besar karenamu, kecil pula karenamu, karena kita, dan semua...

Wahai anakku...,
Kenyataan kita harus bersama sama...
Tak bisa sendirian saja...,
Sepertiku.


_SOLITAIRE_

Sunday, December 15, 2013

SENDIRI KU



Sendiri ku tuk berfikir
Sendiri ku tuk berzikir
Sendiri ku tuk menyindir

Sendiri ku tuk mencibir

Karena alfa diri tuk di sindir
Karena salah diri tuk di cibir
Karena sudah waktu nya berfikir
Karena sudah harus nya berzikir

Mengingat sebab siapa aku lahir
Mengingat sebab siapa hidupku berakhir


_SOLITAIRE_

Wednesday, December 11, 2013

NESTAPA DI BATAS SENJA

Tak ada bekal, 
dan Aku harus arungi perjalanan panjang tanpa ujung

Haruskah ceritaku berakhir dengan ribuan beban di pena mati ku?

Sementara tanganku masih menyungging asa mencoretkannya

Kenapa anakku lontarkan kata- kata itu ?

" Bapak harus pasrah...! ". 

Itu mungkin kalimat bijaknya?

Bagiku itu penghantar tidur, 
ya...! tidur panjangku...

Dan lalu Aku mati,
Bersama ribuan keping mimpi




_SOLITAIRE_

 (in memoriam of my own father)



PENGAMEN TUA DALAM DILEMA


Terkadang, dalam gontai langkahku..., ber kecamuk pertanyaan Akan kah aku sekarat di trotoar jalanan?
Bersimbah peluh dengan Gitar di genggaman?
Karena beratnya nafas hidup ini tak urung hadirkan banyak tekanan

Anak Istriku di rumah menanti haraf - haraf cemas 
Mengingat kepingan uang logam dan serpihan beras sudah habis terkuras
Haaah..., tak pelak aku memelas dan merasa lemas
Langkah kan kaki mengukur jalan pun menjadi sangat malas

Tembang - tembang sumbang yang ku karang hanya kadang - kadang saja di dengar orang 
Kebanyakan acuh cuek tak peduli seloroh ku ber kumandang Bagaimanapun harus tetap berjuang 
Caci cerca ku telan begitupun hina ku terima dengan lapang


Aku dalam Dilema...



_SOLITAIRE_